Tag Archives: OPERA BATU GANTUNG

BATU GANTUNG, OPERA BATAK

24 Sep

PERAN:

  • Bapak Duma
  • Mamak Duma
  • Duma
  • Bapak Pulik
  • Mamak Pulik
  • Pulik
  • Horas

Ringkasan cerita:

Di suatu kampung yang terdapat di propinsi sumatera utara tepatnya di wilayah sekitar Danau Toba tinggallah beberapa keluarga yang hidup rukun dan damai yang masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang begitu pekat. Penduduk yang tinggal di sana masih mempunyai hubungan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya. Tersebutlah salah satu keluarga yang mempunyai satu orang anak perempuan yang bernama Duma. Keluarga Duma mempunyai kerabat yang sangat dekat dengan keluarga Pulik. Baca lebih lanjut

Opera Batak, Riwayatmu Kini…

23 Sep

Opera Batak, Riwayatmu Kini…
Kutipan:   Candra Hariara

Pernah dengar Opera batak?Jenis kesenian teater rakyat itu ternyata sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera Batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka dengan resiko misbar (gerimis bubar : bila gerimis datang maka pertunjukan pun bubar J ).Pada masa jayanya, group opera jumlahnya mencapai 30-an. Diantaranya : Serindo, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan lain-lain.Opera menyajikan cerita sandiwara yang diselingi lagu-lagu, tari-tarian dan lawak. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap dan hesek. Panggungnya sederhana namun cukup unik. Bentuknya menyerupai rumah adat Batak dan diberi hiasan gorga (ukiran khas batak) serta nama operanya. Panggung sengaja diberi lukisan atau property sebagaimana tuntutan cerita. Sebuah tirai penutup menjadi alat penghubung pergantian adegan atau bila acara berganti ke selingan lagu, tari atau lawak. Makanya, opera batak sama durasinya dengan film India. Apalagi kalau sang primadona mampu menghipnotis penonton hingga saweran banyak mengalir, tak jarang sebuah lagu dilama-lamain. Penonton puas meski pertunjukan usai dini hari. Tak peduli pulang menembus kegelapan malam. Maklum saja, tidak seperti sekarang ini alat penerangan listrik pada masa itu belum menjangkau pelosok pedesaan di Sumatera Utara. Nah suasana panggung opera hanya diterangi lampu petromak yang lazim disebut lampu gas, yang terkadang mesti diturunkan untuk menambah angin atau karena kehabisan minyak. Mirip ludruk atau wayang wong dipulau Jawa, opera Batak biasanya berkeliling dari desa ke desa. Sasarannya tentu desa yang baru selesai panen dengan tujuan agar peluang menyedot penonton lebih terbuka. Lama pementasan di sebuah desa tergantung dari kondisi namun biasanya tidak sampai sebulan. Mengingat dunia hiburan jaman dulu terbilang langka tidak heran bila kehadiran opera selalu ditunggu-tuggu masyarakat.Karena berlokasi di alam terbuka maka bukan suatu kejanggalan bila penontonnya duduk margobar atau mengenakan sarung atau selimut untuk melawan dinginnya angin malam. Yang unik, bila tidak ada uang, tiket bisa digantikan beras atau hasil sawah lading asal sesuai dengan nilai tukar yang disepakati J.

Sehingga sering diplesetkan orang.. monis pe dijalo do.. J