Arsip | 02:55

BROMO YANG EKSOTIS

18 Mei

Sepinya Suasana Bromo di H-1 Lebaran thn 2019

Desa Cemoro Lawang di Sore Hari menjelang magrib

 

Malam Hari di Cemoro Lawang

Desa Cemoro Lawang dihuni oleh suku asli di sekitar Bromo yaitu Suku Tengger. Ciri khas dari suku ini adalah selalu menggunakan sarung yang diselempangkan ke lehernya baik dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Kawasan Bromo yang terkenal sangat dingin menjadi alasan mengapa suku ini menggunakan sarung yang dililitkan ke lehernya. Suku ini masih memiliki adat istiadat yang kental dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan kepercayaan pada leluhurnya, membuat kawasan Bromo masih tetap terjaga kelestariannya. Ketika malam tiba saya mencoba untuk keluar menikmati udara malam, tetapi ternyata udaranya sangat dingin sekali & membuat saya tidak tahan berlama-lama di luar. Tujuan saya keluar selain menikmati udara dingin adalah untuk mendengarkan suara Takbiran karena malam itu adalah Malam Takbiran atau malam lebaran. Meskipun saya non muslim tapi keinginan untuk mendengar takbiran sangat kuat itu karena saya dibesarkan di Aceh & sudah terbiasa mendengar Takbir. Akan tetapi saya baru sadar bahwa saya berada di tengah-tengah warga suku tengger yang beragama Hindu. Suasana sepi sangat terasa di sini.

Inilah caption saya ketika itu di Instagram, 4 Juni 2019:

Tak ada TAKBIRAN di sini, tak ada juga suara Adzan pemanggil Sholat.
Saya baru sadar bahwa saya berada di tengah2 warga Suku Tengger yang beragama Hindu.
Seperti ada yg kurang rasanya.
Meski saya Non Muslim suara2 tadi sangat akrab di telinga saya.
Saat Malam Takbiran tiba Ketika kecil saya sering ikut pukul BEDUG di “LANGGAR” sebutan mesjid atau meunasah bagi masyarakat Aceh, tanpa ada teman2 yang melarang bakkan mereka merasa senang & gembira dgn keikut sertaan saya. Bahkan saya ikut takbir keliling.
Masihkah ada rasa itu??
Sudah pudarkah Kebersamaan itu.??
Sebuah Keindahan dalam perbedaan.
Dari ketinggian Gunung Bromo, Probolinggo,
dari tengah2 masyarakat Tengger yang sangat religius, saya mengucapkan:
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H, untuk saudara2 ku umat Muslim semuanya.
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN

Berbeda itu Indah..! 🙏🙏

Tepat jam 03.00 pagi kami dibangunkan oleh Pak Gino Supir Jeep yg sudah kami booking sehari sebelumnya. Sewa Jeep dari Cemoro Lawang hanya Rp. 450.000, itupun karena suasana sepi (di hari Lebaran 1). Menurut informasi biasanya sewa Jeep dari Cemoro Lawang menuju 4 spot adalah Rp.600.00-700.000. Adapun 4 spot tersebut adalah: Sunrise Point (Puncak Bromo), Kawah Bromo, Padang Savana & Pasir Berbisik.

Sekitar pukul 03.45 kamipun sampai di puncak Pananjakan. Dari bawah naik ke atas cukup terjal jalan yg dilalui. Bagi anda yg tidak kuat sebaiknya naik kuda saja yg bisa disewa dgn harga Rp.50.00 -100.000. Sesampai di puncak kita harus menaiki anak tangga lagi yg lumayan terjal. Di atas kita bisa melihat matahari terbit yang sangat Indah luar biasa.
MENANTI SUNRISE DI PUNCAK BROMO

 

PART 1, INDAHNYA PUNCAK BROMO DI PAGI HARI

 

PART 2, INDAHNYA PUNCAK BROMO DI PAGI HARI

 

PART 3, INDAHNYA PUNCAK BROMO DI PAGI HARI

Tepat Jam 06.00 kamipun turun ke bawah kembali ke Jeep untuk menuju Kaldera Tengger di kawah Bromo. Perjalanan dari Pananjakan (Sunrise Point) ke Parkiran Kaldera Tengger butuh waktu kurang lebih 45 menit.

DARI PUNCAK BROMO MENUJU KALDERA TENGGER

Sesampainya di parkiran kita akan menyaksikan banyaknya pemilik kuda yang menawarkan jasanya untuk menuju Kaldera Tengger. Udara yang dingin & segar membuat banyak wisatawan memilih berjalan kaki menuju kaldera dibandingkan dengan menggunakan kuda. Saran saya memang sebaiknya begitu sambil berolahraga & kita juga bisa berhenti sebentar menyaksikan Pura Luhur Poten walau hanya dari luarnya saja atau hanya sekedar berfoto. Akan tetapi saya lebih memilih berkuda agar lebih cepat sampai di Kaldera. Sepanjang perjalanan menuju Kaldera kita akan menyaksikan di sebelah kanan kita adalah Gunung Batok.

MENUJU KALDERA TENGGER DI PAGI HARI

 

BERKUDA MENUJU KALDERA TENGGER, KAWAH BROMO

 

Setelah sampai kaldera ternyata kuda hanya diperbolehkan di titik yang sudah ditentukan yang letaknya lumayan jauh dari bawah tangga naik menuju kawah. Kita harus berjalan kaki lagi, akan tetapi pemandangan dari titik tersebut sangat luar biasa, membuat wisatawan betah berlama-lama & berswafoto. Banyak spot yg bagus untuk pengambilan gambar. Saran saya sebaiknya gunakan kesempatan ini untuk berfoto karena pada umumnya banyak wisatawan yang langsung menuju anak tangga. Mungkin mereka pada tidak sabar ingin melihat kawah Bromo atau Kaldera Tengger dari atas sehingga lupa menggunakan momen di bawah tangga.

Di bawah kaki kaldera sudah banyak wisatawan yang antri untuk naik ke tangga secara bergiliran. Jumlah anak tangganya adalah 250 dengan ketinggian yang sangat terjal. Tangga yang terjal membuat wisatawan sudah pasti tidak akan sanggup hanya satu kali jalan tanpa istirahat. Tapi jangan kuatir karena setiap beberapa anak tangga yang dinaiki atau beberapa meter ada celah di kiri kanan kita baik untuk naik maupun turun. Karena celahnya sangat kecil maka kita harus bergantian dengan wisatawan lainnya. Di sinilah biasanya terjadi kemacetan di tangga. Sesampai di atas saya pastikan bahwa kita akan sangat kagum melihat pemandangan sekelilingnya terutama kawah bromo atau lebih tepat Kaldera Tengger. Pura yg tadi kita lewati kelihatan sangat indah dari atas. Jumlah wisatawan yang banyak berkumpul di atas membuat kita tidak bisa berlama-lama.

MENAIKI 250 ANAK TANGGA KE KALDERA TENGGER, KAWAH BROMO

Setelah kembali ke mobil di parkiran, sekitar Jam 9 lewat kami dibawa oleh Pak Gino supir Jeep menuju Padang rumput Shavana atau orang2 sering menyebutnya juga Bukit Teletubbies. Ratusan jeep berseliweran mondar mandir baik yang pergi maupun pulang dari Shavana. Pak Gino membawa kami ke titik tertentu di Shavana yang menurutnya indah. Kita juga boleh memilih berhenti di titik lain. Di Savana sudah tentu banyak spot foto yang baik.

RATUSAN JEEP MENUJU PADANG RUMPUT SHAVANA BROMO YANG EKSOTIK

 

Selesai dari padang rumput Shavana kita akan dibawa ke titik berikut atau titik terakhir yaitu PASIR BERBISIK. Nama pasir berbisik itu sendiri mengadopsi dari judul film layar lebar. Sebenarnya pasir berbisik tersebut adalah hamparan pasir/ padang pasir yang kita lewati ketika menuju Shavana. Akan tetapi para supir jeep biasanya lebih memilih ini sebagai spot terakhir, karena biasanya wisatawan lebih betah berlama-lama di sini daripada di Shavana.

Kurang lebih jam 10 pagi kamipun kembali ke penginapan untuk bersiap-siap check out menuju destinasi wisata berikutnya masih di wilayah Jawa Timur yaitu: TUMPAK SEWU di Lumajang.

PASIR BERBISIK BROMO