Arsip | 07:15

Music Digital Recording

23 Sep

Music Digital Recording adalah sebuah teknik sistem rekaman musik secara digital dengan mempergunakan alat-alat digital, yang akhir-akhir ini telah banyak beredar seiring dengan berkembangnya teknologi komputerisasi itu sendiri. Karena seperti kita ketahui, Anda bisa memanfaatkan banyak hal dengan menggunakan bantuan komputer mulai dari hal-hal yang sederhana atau bahkan hingga hal-hal yang rumit sekalipun, dan ini berlaku pula halnya dengan MDR (Music Digital Recording). Karena jika Anda benar-benar memahami dan memiliki dasar yang cukup mengenai sistem komputer, maka Anda akan cukup mudah untuk memahami bagaimana sebuah sistem komputer dapat membantu dalam memudahkan hidup Anda.
Untuk bahasan kali ini, janganlah Anda membayangkan musik digital hanya sebatas pada alat-alat digital yang ada seperti Automated Mixing Controler, Digital-analog converter, dan alat-alat hebat lainnya. Bayangkanlah terlebih dahulu bila Anda hanya memiliki sebuah komputer, sound card yang memadai, speaker yang memungkinkan untuk menangkap semua sinyal dengan cukup baik, beberapa alat musik yang biasa Anda kenal, seperti gitar, keyboard, microphone, dan lain-lain serta yang terakhir adalah software audio yang nantinya akan Anda pergunakan.

Baca lebih lanjut

Pertimbangan dalam Memilih Sound System

23 Sep

  • Pilihlah besar daya yang sesuai dengan kebutuhan anda. Untuk penggunaan pribadi seperti latihan dll, cukuplah memilih amplifier dengan daya 15-20 watts. Pada kebanyakan amplifier berdaya kecil seperti ini telah tersedia fasilitas jack Head Phone (misal: Amplifier Guitar Laser 20) yang sangat berguna terutama bagi kawula muda yang punya kebiasaan bermain musik hingga tengah malam. Dengan memanfaatkan saluran untuk Head Phone ini, maka dijamin seisi rumah yang lain ataupun tetangga tidak akan terganggu “atraksi” kita.Untuk penggunaan acara pesta, Anda akan memerlukan daya speaker sound system, power sound system, speaker audio systems, atau sound audio yang lebih tinggi lagi yaitu sedikitnya 125 watts atau lebih, karena amplifier ini akan dapat sekaligus kita gunakan sebagai monitor dari instrument musik yang sedang kita mainkan. Acara pesta pernikahan/wedding party, ulang tahun, atau acara gathering memang membutuhkan sound system yang lebih besar.

Baca lebih lanjut

Opera Batak, Riwayatmu Kini…

23 Sep

Opera Batak, Riwayatmu Kini…
Kutipan:   Candra Hariara

Pernah dengar Opera batak?Jenis kesenian teater rakyat itu ternyata sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera Batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka dengan resiko misbar (gerimis bubar : bila gerimis datang maka pertunjukan pun bubar J ).Pada masa jayanya, group opera jumlahnya mencapai 30-an. Diantaranya : Serindo, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan lain-lain.Opera menyajikan cerita sandiwara yang diselingi lagu-lagu, tari-tarian dan lawak. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap dan hesek. Panggungnya sederhana namun cukup unik. Bentuknya menyerupai rumah adat Batak dan diberi hiasan gorga (ukiran khas batak) serta nama operanya. Panggung sengaja diberi lukisan atau property sebagaimana tuntutan cerita. Sebuah tirai penutup menjadi alat penghubung pergantian adegan atau bila acara berganti ke selingan lagu, tari atau lawak. Makanya, opera batak sama durasinya dengan film India. Apalagi kalau sang primadona mampu menghipnotis penonton hingga saweran banyak mengalir, tak jarang sebuah lagu dilama-lamain. Penonton puas meski pertunjukan usai dini hari. Tak peduli pulang menembus kegelapan malam. Maklum saja, tidak seperti sekarang ini alat penerangan listrik pada masa itu belum menjangkau pelosok pedesaan di Sumatera Utara. Nah suasana panggung opera hanya diterangi lampu petromak yang lazim disebut lampu gas, yang terkadang mesti diturunkan untuk menambah angin atau karena kehabisan minyak. Mirip ludruk atau wayang wong dipulau Jawa, opera Batak biasanya berkeliling dari desa ke desa. Sasarannya tentu desa yang baru selesai panen dengan tujuan agar peluang menyedot penonton lebih terbuka. Lama pementasan di sebuah desa tergantung dari kondisi namun biasanya tidak sampai sebulan. Mengingat dunia hiburan jaman dulu terbilang langka tidak heran bila kehadiran opera selalu ditunggu-tuggu masyarakat.Karena berlokasi di alam terbuka maka bukan suatu kejanggalan bila penontonnya duduk margobar atau mengenakan sarung atau selimut untuk melawan dinginnya angin malam. Yang unik, bila tidak ada uang, tiket bisa digantikan beras atau hasil sawah lading asal sesuai dengan nilai tukar yang disepakati J.

Sehingga sering diplesetkan orang.. monis pe dijalo do.. J